Media AS Bongkar Penyebab Timnas Indonesia Sulit Lolos ke Piala Dunia

BOLAGSIA JAKARTA - Media asal Amerika Serikat, The Athletic, menyoroti langsung penyebab Timnas Indonesia kembali gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia 2026. Sorotan ini muncul di tengah besarnya popularitas sepak bola di Indonesia, namun prestasi yang tak kunjung menyamai antusiasme publik.

Media itu menyebut Sepak bola sudah lama menjadi olahraga nomor satu di Indonesia. Namun, satu-satunya penampilan di Piala Dunia terjadi pada 1938, saat tim masih bernama Hindia Belanda. 

Mereka juga mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini kesulitan menghasilkan pemain kelas atas.

“Penyebab utamanya karena kurangnya infrastruktur pendukung sepak bola, sebuah masalah yang terus membayangi perkembangan talenta lokal. Untuk menutupi kekurangan tersebut, Indonesia mulai mengandalkan pemain diaspora, sebagian besar berasal dari Belanda,” tulis media itu, dikutip VIVA Senin 17 November 2025.

Menurut Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha ada lebih dari 2,2 juta warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri, dan sekitar 1,7 juta berada di Belanda.

“Dari sinilah PSSI kemudian memanfaatkan potensi diaspora sebagai bagian dari strategi memperkuat Timnas Indonesia,” tulis media itu lagi.

Komposisi itu terlihat jelas pada skuad berisi 23 pemain selama jeda internasional Oktober. Sebanyak 15 pemain berasal dari Belanda, termasuk Eliano Reijnders, saudara dari pemain timnas Belanda dan gelandang Manchester City, Tijjani Reijnders.

Mereka menilai, program naturalisasi membawa sejumlah peningkatan performa, sehingga membawa Indonesia mencapai babak gugur Piala Asia 2023 dan melaju ke putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun langkah Rizky Ridho cs terhenti setelah kalah dari Arab Saudi dan Irak. 

The Athletic menilai mimpi Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia seharusnya bisa dicapai, apalagi sekarang format Piala Dunia sudah diperluas menjadi 48 tim.

Dengan populasi besar, minat publik tinggi, dan kesempatan lolos yang semakin terbuka, kegagalan ini disebut sebagai cerminan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup banyak untuk memajukan sepakbola Tanah Air.



Source : The Athletic

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal Usul Umuh Muchtar Kekayaan: Dari Kredit Celana ke Sultan Tanah Bandung

Legenda Liverpool Muak Premier League Isinya Cuma Taktik Pratama Arhan

Sosok Soufian Asafiati, Agen Patrick Kluivert Kelahiran Maroko Pengusaha Bidang Olahraga